Kebijakan PPKM Berlanjut, Bisnis Aftermarket Kendaraan Siap-siap Menjerit

  • Oleh : edo

Selasa, 20/Jul/2021 14:04 WIB


SoundandMachine.com (Jakarta) - Sebagai upaya untuk menghentikan angka penularan Covid-19 yang semakin meningkat, pemerintah telah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM Darurat) pada 3 – 20 Juli 2021 di beberapa area di Indonesia.  

Kebijakan tersebut, membuat aktivitas maupun mobilitas masyarakat menjadi sangat terbatas. Mereka diharapkan oleh pemerintah untuk sementara berdiam di rumah saja, karena banyak akses jalan yang juga ditutup oleh petugas.

Baca Juga:
Alpine PWE-S800, Subwoofer Aktif dengan Performa Maksimal

Sayangnya, kebijakan tersebut ternyata menyebabkan beberapa sektor bisnis terkena dampaknya. Paling terasa, tejadi penurunan penjualan secara signifikan, sehingga menyebabkan banyak pelaku usaha mulai dari Usaha Kecil Menengah (UKM) hingga pebisnis besar menjerit.

Dalam talkshow Diskusi Car Audio, Modifikasi & Otomotif (Discomotif), yang diselenggarakan oleh SoundandMachine pada Senin, 19 Juli 2021 secara virtual, turut membahas mengenai imbas kebijakan PPKM terhadap sektor bisnis otomotif termasuk aftermarket.

Baca Juga:
Michael Santoso, Sosok Installer Muda Pendiri Reborn Audio Kini Telah Tiada

Acara tersebut, mengundang Wahyu Tanuwidjaja sebagai founder Car Aftermarket Network (CAN) dan Boy Prabowo sebagai Komite Asia Pacific Car Tuning Association (Apact) sebagai naraseumber, dan ditayangkan di Facebook Live.

Baca Juga:
Hadirkan Experience Berbeda, Pioneer Menyulap Toyota Hiace Jadi Demo Room Berjalan

Wahyu membuka pembicaraan dengan mengatakan, bahwa dampak PPKM darurat yang telah berjalan hingga dua pekan, diprediksi akan menyebabkan penurunan penjualan. "Mengacu kejadian lockdown tahun lalu, impaknya bukan bulan ini, melainkan bulan-bulan ke depan. Ada diler belanja, namun bulan depan tidak bisa bayar," ungkapnya. 

Ia menambahkan, konsumen yang ingin belanja juga terkendala. "Juli cukup aman, Agustus cukup membahayakan. Bulan depan ditutup 4 minggu, bagaimana September-nya? Hari ini masih baik-baik saja, 1-2 bulan masih kuat, namun 3-4 bulan kedepan seperti apa?," tuturnya.

Wahyu yang juga sebagai CEO PT Audioworkshop mengatakan, selaku pemegang beberapa merek komponen audio, pihaknya selalu memantau perkembangan seluruh jaringan diler. "Sejauh pantauan saya, yang teriak susah banyak tetapi kalau tutup belum ada. Mungkin karena baru satu bulan," ujarnya.

Sebagai salah salah satu strategi untuk bertahan, pria ramah itu menyarankan agar para diler bisa mengandalkan konsumen lama. Selain itu, dalam hal penjualan juga dinilai efektif dengan memberi beragam promo menarik.

"Promo kita jual ke konsumen supaya datang ke diler. Kalau diler tutup, bisa pasang di rumah konsumen atau di kantor konsumen, pokoknya bekerja. Ujungnya orang Indonesia selalu adaptif dengan kita, ada cara baru jadi solusi," paparnya.

Di akhir talkshow ia menekankan bahwa kebijakan sekedar menghimbau untuk tutup tanpa solusi bukan hal bagus. Sebab, sebuah solusi tidak bisa disamaratakan cocok atau tidaknya. Pemerintah harus kaji bidang usahanya. Misalnya dianggap bermasalah dengan protokol seperti menyebabkan kerumunan, harus kasih solusinya.

Lalu, pelaku usaha sebaiknya mendapat training atau guideline dari pemerintah mengenai penanganan bagaimana jika ada karyawan yang terkena covid, untuk mengatasi penuhnya Rumah Sakit atau kesulitan mencari obat.

"Pengusaha, baik bidang otomotif maupun non-otomotif, ada batas kesanggupannya dalam menghadapi PPKM. Misalnya PPKM diperpanjang hingga Agustus sudah membahayakan. Antusias otomotif harus bersuara bersama, salah satunya dengan membuat diskusi terkait PPKM, hingga didengar pemerintah sehingga menjadi jalan keluar," pungkasnya. (EPS)