Disatukan Oleh Filosofi, Begini Rasanya Memacu Lima Model Honda yang Berbeda

  • Oleh : Julfikri

Kamis, 05/Nov/2026 11:00 WIB
Merasakan lima model Honda yang berbeda dalam sesi Honda Auto Technology Workshop. Merasakan lima model Honda yang berbeda dalam sesi Honda Auto Technology Workshop.

SoundandMachine.com (Tangerang) - Honda merupakan pabrikan otomotif yang terkenal dengan filosofinya dalam pembuatan kendaraan roda empat, terutama untuk rasa berkendara dan kepraktisan saat digunakan sehari-hari.

Pertama, Joy of Driving dengan elemen response, controllability, handling, predictability, dan balance. Masing-masing model Honda memiliki karakter dan performa yang berbeda, tetapi Joy of Driving inilah menjadi benang merah dalam arti punya rasa berkendara khasnya sendiri.

Baca Juga:
Pertegas Diferensiasi, DFSK Luncurkan Logo Baru Khusus Kendaraan Komersial

Selain itu, filosofi pembuatan yang menjadi andalan Honda adalah Man Maximum Machine Minimum (M/M), yaitu sebuah rancang bangun kendaraan roda empat dengan konsep memaksimalkan ruang untuk manusia, meminimalkan ruang untuk komponen mekanis.

SoundandMachine mendapat kesempatan untuk merasakan kendaraan Honda yang menerapkan filosofi tersebut, dalam sesi Honda Auto Technology Workshop yang diadakan oleh PT. Honda Prospect Motor (HPM) selaku agen pemegang merek, pada tanggal 30 Oktober 2026 di Indonesia Safety Driving Center, Tangerang.

Baca Juga:
Pilihan MPV Listrik Bertambah Lagi, Kia Buka Pre-Book Carens EV Mulai Rp 382 Juta

“Melalui Joy of Driving, engineering membentuk bagaimana kendaraan merespons dan juga berinteraksi dengan penggunanya. Melalui M/M principle, engineering juga mempertimbangkan bagaimana kendaraan mendukung kebutuhan manusia supaya selalu nyaman digunakan dalam keseharian.” buka Ferdianto Budiono, Sales & Marketing Head Division PT. HPM kepada SoundandMachine.com di lokasi acara (30/10/2026).

Adapun kendaraan yang disediakan untuk dirasakan terdiri dari 5 mobil Honda, yaitu Brio RS, WR-V RS, HR-V RS e:HEV, Prelude dan Super One. Kelima model tersebut disediakan untuk dipacu di trek yang sudah dibuat oleh penyelenggara.

Baca Juga:
Debut di Pameran Toyota Space, Kijang Innova Zenix Jadi Model Pertama Fitur T Intouch Baru

Pertama Honda Brio RS, ketika dipacu di trek, tarikan cukup responsif dengan transmisi CVT, dan saat menikung pengendalian terasa presisi. 

Rasa berkendara seperti ini membuat Brio tidak termakan zaman, karena selain ekonomis juga nikmat dikendarai, termasuk dalam kecepatan tinggi. Tidak mengherankan jika Brio masih memiliki banyak peminat, bahkan sempat menjadi mobil terlaris di Indonesia. 

Kedua, Honda WR-V RS, ketika dipacu di trek, rasa berkendara ada kemiripan dengan Brio dalam arti, masih terasa lincah dan stabil, meskipun ground clearance lebih tinggi dan dimensi lebih besar, karena berjenis small SUV.

Hanya saja berhubung small SUV dengan ground clearance lebih tinggi dan dimensi lebih besar, sebaiknya lebih berhati-hati ketika dipacu, terutama saat menikung.

Ketiga, Honda HR-V e:HEV RS sebagai model global, performanya lebih tinggi dari dua model yang dirasakan sebelumnya, karena adanya motor listrik selain mesin bensin.

Handling yang terasa presisi saat dipacu dengan motor penggerak seperti ini, membuatnya semakin terasa bahwa seperti inilah rasa berkendara khas Honda.

Sekadar informasi tambahan, soundandmachine sudah mencoba HR-V e:HEV RS ini dalam sesi media test drive Jakarta - Anyer pergi-pulang pada tahun 2025 lalu, dan itu terasa sangat menyenangkan untuk dipacu di jalan berliku-liku.

Beralih ke model flagship hybrid Honda yaitu Prelude, awalnya sedikit skeptis karena berpenggerak depan, di tengah tren sportscar sekarang ini yang condong ke penggerak belakang atau all-wheel drive.

Namun ketika dirasakan di trek, Prelude seperti membuka lembaran baru dalam aspek fun to drive, terutama untuk sportscar berpenggerak depan. 

Ketika dipacu di trek, handling terasa presisi karena mengusung kaki-kaki yang sama seperti Civic Type R, dan terasa seperti mobil bensin biasa ketika deselerasi, berkat adanya suara artifisial downshifting.



Terakhir, Honda Super One, sebagai satu-satunya kendaraan listrik di Honda Auto Technology Workshop. Ketika dirasakan di trek, Super One terasa masuk akal dengan harganya, karena seperti inilah kendaraan listrik yang all-out terutama karena performanya.

Pasalnya, ketika dirasakan di trek, Super One terasa kencang, terutama karena adanya ‘Boost Mode’ yang membuat tenaganya bertambah secara instan, dan handling terasa presisi, salah satunya karena ban standarnya sudah performa tinggi, yaitu Advan Fleva.

Super One inilah yang menunjukkan benang merah antara rancang bangun M/M dan ‘Joy of Driving’, terutama kalau melihat battery pack yang kompak dan posisinya berada di tengah. 

Rancang bangun seperti ini membuat kabin lebih lega, sekaligus membuat center of gravity lebih terpusat, yang membuat pengendalian tetap stabil dan presisi.

Meskipun artifisial, adanya suara saat dipacu dan deselerasi menambah kesenangan berkendara Super One. Hanya saja bodi tinggi dan ramping yang membuatnya agak riskan efek angin dari samping.

Setelah merasakan lima model Honda tersebut, perbedaan model bukan menjadi batasan untuk rasa berkendara khas yang menyenangkan, selama filosofi pembuatannya berlaku untuk semua. 

“Setiap kendaraan memiliki karakter masing-masing, tapi bagi Honda semua berangkat dari filosofi dan ideologi yang sama.” pungkas Ferdianto. (Joule)