Oleh : Julfikri
DFSK tunjukkan semangat berkiprah di pasar otomotif Indonesia dengan menghadirkan kendaraan plug-in hybrid DFSK E5 Plus yang dirilis tahun ini.
SoundandMachine.com (Jakarta) - DFSK mungkin tidak sesukses pabrikan otomotif asal Tiongkok lain, meskipun sudah cukup lama eksis di Indonesia, termasuk pabriknya di Cikande, Tangerang.
Ketika kendaraan listrik pasarnya tinggi seperti sekarang ini, DFSK tetap tidak sesukses pabrikan Tiongkok lain, meskipun sudah punya modelnya yaitu Seres E1 dan Seres E3.
Baca Juga:
Pertegas Diferensiasi, DFSK Luncurkan Logo Baru Khusus Kendaraan Komersial
DFSK sendiri antara tidak agresif atau terlalu berhati-hati dalam memasarkan kendaraannya di Indonesia yang membuat gaum nya kurang terdengar, padahal pabrikan Tiongkok di Indonesia prospeknya sangat baik..
Meski demikian, DFSK masih semangat untuk berkiprah di Indonesia, yang ditandai dengan adanya mobil penumpang keluaran terbaru untuk tahun ini, dan menariknya bukan kendaraan listrik melainkan plug-in hybrid yaitu DFSK E5 Plus.
Baca Juga:
Catat Pemesanan Hingga 1.100 Unit, DFSK E5 Plus Dibanderol Mulai Rp 500 Juta
“Kendaraan ini menjadi bagian penting dari transformasi DFSK menuju mobilitas pintar. Kami sangat terlibat dalam riset pasar untuk memahami kebutuhan pelanggan secara mendalam, serta terus bertransformasi menuju era energi baru dengan pengembangan berkelanjutan.” buka Franz Wang, Chief Operating Officer Sokonindo Automobile kepada SoundandMachine.com di lokasi acara peluncuran nya (23/6/2026).
Terdengar masuk akal, mengingat pabrikan Tiongkok lain yang sudah bonafide dengan mobil listriknya juga baru memasarkan kendaraan plug-in hybrid ke Indonesia.
Baca Juga:
Booking Hanya Rp 5.000, SUV Plug-In Hybrid DFSK E5 Plus Cetak Ratusan Pemesan
Selain itu, E5 Plus merupakan kendaraan berjenis SUV 3-baris jok penumpang, salah satu kombinasi yang bagus untuk pasar Indonesia.
Eksterior E5 Plus terlihat rapi dengan fender sewarna bodi dan aksen warna bahan mentah hanya ada di bagian bawah bodi, meskipun tidak semewah SUV sekelasnya, seperti Chery Tiggo 8 CSH misalnya.

Interior terlihat banyak fitur dengan adanya speaker 2-way plus center, namun desainnya kurang menyatu, terutama kalau melihat speaker center dan cover midbass di door trim.
Untuk jok baris kedua, disinilah salah satu poin menariknya karena satu-satunya yang mengusung model captain seat dan rear seat entertainment di kelasnya.

Sayangnya rear seat entertainment tersebut, meskipun fungsional tetapi mengganggu kesan lega dari panoramic roof-nya.
Tim soundandmachine mendapat kesempatan untuk merasakan E5 Plus selama tiga hari, dengan pengetesan yang mensimulasikan pemakaian kerja sehari-hari, dengan jarak tempuh 144 km.

Selama pemakaian terus berada di mode ‘Smart’, atau di tengah-tengah antara Pure Electric, Prefer Electric, Prefer Fuel, dan Charging.
Ketika berada di mode ‘Smart’, sistemnya sangat memprioritaskan kerja motor listrik, selama baterai masih berada di sekitar 25 persen atau lebih.
Baik saat dibawa santai maupun ngebut, selama baterai masih diatas 25 persen, di indikator tidak menunjukkan tanda-tanda mesin bensin bekerja.
Berdasarkan pengetesan tim soundandmachine, E5 Plus mampu berjalan dengan motor listriknya saja sejauh 92 km, yang tentu membuat bahan bakar jadi sangat hemat, karena bisa berjalan sejauh itu tanpa mesin bensin bekerja sama sekali.
Namun jangan lupa, agar efisiensi bahan bakarnya tetap maksimal, pengguna harus keluar uang lagi untuk mengisi baterai, baik untuk mengisi baterai di SPKLU atau memasang home charging di rumah, dan itu tipikal mobil plug-in hybrid.
Ketika baterai sudah berada di 25 persen, otomatis mesin akan bekerja mengisi baterai, sehingga mulai mengkonsumsi bahan bakar.

Selama mesin bensin mulai bekerja, konsumsi BBM-nya sekitar 23,2 km/liter setelah menempuh jarak sekitar 52 km, dan jika dikombinasikan dengan EV mode, tepatnya dari terima unit hingga dikembalikan dengan jarak tempuh 144 km, konsumsi BBM-nya 64,2 km/liter.
E5 Plus dibanderol dengan harga Rp. 515 juta, lebih mahal dari tipe tertinggi Wuling Eksion bermesin plug-in hybrid yaitu Rp. 509 juta, dan lebih murah dari Chery Tiggo 8 CSH tipe tertinggi untuk berpenggerak depan, yaitu Rp. 529 juta.
Kesimpulannya, E5 Plus ini menjadi pilihan yang menarik, terutama hanya ini yang jok baris keduanya captain seat dan ada rear seat entertainment, serta konsumsi bahan bakar relatif irit.
Meskipun fiturnya kompetitif, sayangnya E5 Plus ini desain interiornya kurang estetik, yang mengurangi kesan mewahnya.
Ditambah, E5 Plus ini dari segi aftersales masih kalah sama Wuling yang dealer-nya sudah banyak meskipun sama-sama punya pabrik sendiri di Indonesia, dan kalah mewah dengan Tiggo 8 CSH dengan harga sedikit lebih mahal.
Dengan memilih plug-in hybrid ketimbang kendaraan listrik yang pasarnya sedang tinggi di Indonesia, akankah E5 Plus kompetitif di kelasnya? (Joule)