Kantongi Juara Dunia 4 Kali dengan Yaris, Ternyata Begini Perjuangan Toyota Gazoo Racing di WRC

  • Oleh : Julfikri

Senin, 27/Des/2021 11:30 WIB
Toyota Gazoo Racing sangat berjuang mengembangkan Yaris WRC hingga meraih juara dunia 4 kali (sumber: Toyota) Toyota Gazoo Racing sangat berjuang mengembangkan Yaris WRC hingga meraih juara dunia 4 kali (sumber: Toyota)

SoundandMachine.com (Jepang) – Toyota, melalui divisi motorsport Toyota Gazoo Racing, sudah mencetak kemenangan di ajang World Rally Championship (WRC) 4 kali berturut-turut dari sejak kembali di tahun 2017.

Pertama kali Toyota Gazoo Racing juara pasca kembali di tahun 2018 dalam kategori pabrikan, kemudian juara dalam kategori pereli di tahun 2019 dan 2020, hingga menguasai kategori pereli dan pabrikan di tahun 2021.

Baca Juga:
Toyota GR Supra Racikan Toms Ini Lebih Bertenaga dan Nyaman untuk Perjalanan Jarak Jauh

Baru-baru ini Toyota Gazoo Racing mengungkap evolusi mobil andalannya di WRC, yaitu Yaris, dari pertama kembali hingga menguasai kategori seperti yang terjadi di musim 2021 ini.

Baca Juga:
Pakai Hilux Baru, Toyota Gazoo Racing Siap Tempur di Ajang Reli Dakar 2022

(sumber: Toyota)

Toyota memulai proyek untuk turun di ajang WRC sejak tahun 2015, dengan pengembangan oleh Toyota Motorsport GmbH, yang sekarang menjadi Toyota Gazoo Racing Europe Germany.

Baca Juga:
Gahar! Toyota Gazoo Racing Siapkan Hilux Baru Untuk Reli Dakar 2022

Proyek tersebut seluruhnya dinahkodai oleh mantan juara dunia WRC Tommi Makinen, dengan technical director Tom Fowler yang mengurus pengembangan mobilnya secara keseluruhan.

(sumber: Toyota)

Ketika Makinen mengembangkan Yaris WRC, menurutnya yang paling penting adalah bagaimana supaya pengemudi bisa menguasai mobil tersebut sepenuhnya. Untuk mewujudkan itu, dengan cermat Fowler menelusuri bagian yang paling mendasar dalam sebuah mobil.

Jawabannya adalah, membuat center of gravity serendah mungkin dengan menitikberatkan pada bagian tengah bodi sebanyak mungkin.

Setelah itu, barulah para insinyur memikirkan mesin yang membuat mobil tersebut seimbang, sehingga membuat pengemudi bisa mengontrolnya dengan percaya diri, tanpa rasa ketidaknyamanan sekalipun.

(sumber: Toyota)

Mesin tersebut antara lain 1.600 cc 4-silinder turbo, yang dipakai sejak pertama kembali berlaga di WRC pada tahun 2017, dengan lebar serta jarak antar silinder yang diperpendek, dan concern utama pada sistem pendinginan.

Tim terus melakukan pengembangan pada mesin, bahkan di musim 2021, mesin tersebut mengalami perubahan mayor pada blok, crankshaft, head, piston, sump, sensor, dan sebagainya, sehinggaa torsinya meningkat sebanyak 20%.

Rear wing Toyota Yaris WRC 2017-2021 (sumber: Toyota)

Berikutnya, soal aerodinamika yang tentunya sangat penting di ajang reli, bukan hanya balap sirkuit saja. Meski tidak sepenting merancang aerodinamika untuk turun di ajang balap sirkuit, namun untuk merancangnya tidak kalah rumit.

Pasalnya, tim harus membuat rear wing, panel pintu, fender depan dan fender belakang secermat mungkin dimana setiap detail harus menunjang performa, karena pengaruhnya sampai ke handling.

Hasilnya, di ajang balap reli dengan stage kecepatan tinggi seperti Swedia dan Finlandia, perangkat tersebut bisa membuat mobil lebih menapak, bahkan bisa konsisten memenangkan seri WRC di Finlandia.

Aerodinamika menjadi fokus yang utama selain mesin, karena hampir setiap tahun tim melakukan revisi, meskipun sudah mengantongi juara sejak 2018. Bahkan untuk musim 2021, terungkap bahwa ada perubahan pada desain fender depan secara signifikan.

Meski sekarang sudah tidak dipakai lagi, perjuangan Toyota Gazoo Racing dengan Yaris WRC dari musim 2017 hingga 2021 tentunya akan menjadi pegangan untuk musim 2022 nanti.

(Joule)