Empat Perusahaan Otomotif Asal Jepang ini Dirikan Asosiasi Riset Bahan Bakar Rendah CO2

  • Oleh : Julfikri

Rabu, 27/Jul/2022 11:30 WIB
Ilustrasi mobil dengan bahan bakar rendah CO2. (sumber: Toyota) Ilustrasi mobil dengan bahan bakar rendah CO2. (sumber: Toyota)

SoundandMachine.com (Jepang) - Tuntutan global untuk perusahaan otomotif saat ini adalah emisi CO2 antara harus sangat rendah dan tidak ada sama sekali. Itulah mengapa beberapa perusahaan otomotif yang memutuskan untuk beralih ke mobil listrik baterai, karena nol emisi CO2. 

Namun di sisi lain, merupakan hal yang krusial untuk menyediakan beragam pilihan energi untuk memenuhi kebutuhan di berbagai negara.  

Baca Juga:
Bakal Luncurkan Dua Mobil Baru, Suzuki Siap Unjuk Performa Terbaik di GIIAS 2022

Bahan bakar seperti hidrogen dan biomass memang dianggap mampu mengurangi CO2, tetapi membutuhkan klarifikasi untuk masalah dan mencari solusi pengurangan emisi CO2, serta implementasi sosial di seluruh proses manufaktur, selain pengadaan bahan baku untuk bahan bakarnya. 

Menjawab tantangan tersebut, melalui keterangan resminya, perusahaan otomotif Toyota, Suzuki, Subaru, dan Daihatsu bekerjasama mengadakan asosiasi riset bahan bakar rendah CO2, yaitu Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (Research Association). 

Baca Juga:
Punya Populasi Kedua Terbanyak Setelah Jabodetabek, Subaru Indonesia Buka Dealer Resmi di Batam

(sumber: Research Association)

Baca Juga:
Banyak Untungnya, Astra Financial Tawarkan Beragam Promo Pembelian Mobil Baru di GIIAS 2022

Research Association mempromosikan penelitian teknologi tentang penggunaan biomassa, serta produksi efisien bahan bakar bioetanol untuk mobil melalui sirkulasi hidrogen, oksigen, dan CO2 yang dioptimalkan selama produksi untuk mencapai masyarakat netral karbon. 

Asosiasi tersebut akan melakukan riset untuk meningkatkan teknologi produksi bahan bakar bioetanol generasi kedua tanpa persaingan di sektor pangan. 

Oleh karena itu, Research Association akan merancang, memasang, dan mengoperasikan fasilitas produksi. Termasuk mengidentifikasi masalah produksi, mencari solusinya dan mempelajari cara meningkatkan efisiensi sistemnya. 

Research Association juga akan mempelajari bagaimana menggunakan oksigen konsentrasi tinggi yang dihasilkan sebagai produk sampingan selama produksi hidrogen, serta CO2 yang dihasilkan selama produksi bahan bakar bioetanol. 

Masalah terkait dengan penggunaan bahan bakar bioetanol yang diperoleh dalam kendaraan akan diselidiki serta mencari solusi.  

Kemudian Research Association akan mempelajari formula yang membuat volume produksi budidaya bahan baku dan produksi bahan bakar bisa diprediksi. 

Asosiasi tersebut juga akan mengembangkan sistem yang mengusulkan metode budidaya optimal untuk memaksimalkan hasil dan mengoptimalkan komponen tanaman agar mengamankan bahan baku untuk bahan bakar bioetanol.  

Tujuannya adalah untuk meningkatkan akurasi produksi hasil panen melalui survei komposisi tanah dan metode lainnya. 

Dengan demikian, akan ada solusi alternatif untuk mengurangi emisi CO2 selain elektrifikasi. (Joule)