Bukan Perusahaan Jepang, Toyota Gandeng CATL untuk Produksi Baterai Mobil Hybrid

  • Oleh : Julfikri

Selasa, 21/Apr/2026 16:00 WIB
Toyota resmi berkolaborasi dengan perusahaan CATL dalam produksi baterai mobil hybrid-nya. (sumber: Toyota) Toyota resmi berkolaborasi dengan perusahaan CATL dalam produksi baterai mobil hybrid-nya. (sumber: Toyota)

SoundandMachine.com (Tangerang) - Memasuki usia 55 tahun PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) secara resmi mengumumkan kemitraan strategis dengan perusahaan asal Tiongkok yaitu Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL).

CATL merupakan salah satu produsen baterai mobil terbesar di dunia, untuk bersama mengembangkan produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia.

Baca Juga:
Mulai dari Subaru BRZ Super Series, Hogers Indonesia Luncurkan Tim Balap Mobil

“Komponen sel baterai dan modul yang saat ini diimpor, nantinya akan di produksi oleh sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Kemitraan ini tidak hanya akan memperbesar investasi, tetapi juga mendukung inisiatif multipathway Toyota menuju netralitas karbon melalui penguatan rantai pasok lokal," kata Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto dalam keterangan resmi (20/4/2026).

Baca Juga:
Detailnya Mulai Diungkap, Begini Impresi Wuling Eksion Varian EV dan PHEV

Saat ini TMMIN memiliki lini produksi baterai pack di pabrik Karawang untuk memproduksi baterai pada kendaraan hybrid Toyota Kijang Innova Zenix, Veloz, dan Yaris Cross, yang selama ini masih impor untuk komponen sel baterai dan modul.

Melalui kemitraan ini, kandungan lokal baterai ditingkatkan dengan pendalaman lokalisasi baterai sel dan modul di dalam negeri.

Baca Juga:
Tunjukkan Komitmen untuk Pasar Indonesia, Hino Luncurkan Bus 4x4 di GIICOMVEC 2026

Prosesnya dilakukan secara bertahap memperkuat rantai pasok yang telah ada, dengan mengembangkan kapabilitas manufaktur kendaraan konvensional menjadi mampu memproduksi kendaraan elektrifikasi secara menyeluruh, khususnya kendaraan hybrid.

Dengan demikian, kemampuan sumber daya manusia dapat ditingkatkan, mengurangi ketergantungan impor, memperkuat industri otomotif, dan mendukung upaya menjadi basis produksi dan ekspor kendaraan elektrifikasi serta komponen utamanya untuk pasar global.

“Melalui kolaborasi strategis dengan CATL di Indonesia, kami berupaya meningkatkan kemampuan produksi battery assy pack hingga pembuatan sel baterai dan modul secara menyeluruh.” jelas Nandi.

Melalui kerjasama ini, TMMIN menggelontorkan investasi senilai Rp 1,3 triliun dalam mendukung dan mewujudkan upaya Indonesia memperkuat ekosistem industri kendaraan elektrifikasi, termasuk rantai pasok baterai, dari hulu hingga hilir.

Investasi ini merupakan bagian dari upaya Toyota untuk terus berkembang, dimana selama 55 tahun ini telah menanamkan investasi sebesar Rp 100 T.

Toyota, bersama dengan jaringan pemasok lokal dan dealer yang melibatkan lebih dari 360.000 tenaga kerja di berbagai sektor, mulai dari produksi, rantai pasok, distribusi, hingga layanan purna jual. 

Upaya ini telah menghasilkan produksi kumulatif sebanyak 10 juta unit kendaraan Toyota dan 14 juta unit kendaraan Toyota Group.

Pendekatan komprehensif ini menjadi langkah penting bagi TMMIN sebagai anak perusahaan Toyota pertama di Asia Tenggara yang akan melakukan kegiatan ekspor baterai ke pasar global, yang dimulai di paruh ke-2 2026. 

Tidak hanya baterai yang telah terpasang pada kendaraan HEV, tetapi juga baterai dalam bentuk komponen yang turut dieksporsebagai bagian dari upaya memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok kendaraan elektrifikasi dunia. 

“Selain mempertahankan ekosistem pemasok yang ada, TMMIN juga meningkatkan secara progresif dan bahkan berpotensi menarik mitra rantai pasok baru untuk mendukung transformasi industri,” ucap Bob Azam, Wakil Presiden Direktur TMMIN.

Melalui usaha tersebut, Toyota terus berkomitmen untuk menjadi mitra aktif dalam pembangunan serta berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional dan menghadirkan solusi mobilitas yang inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat. (Joule)