Oleh :
SoundandMachine (Jepang), 13 November 2020 - Selama ini kalau mendengar pop culture Jepang seperti komik (manga) atau animasinya (anime) terkait otomotif, yang terlintas di pikiran orang pada umumnya adalah Initial D dengan Toyota Sprinter Trueno GT-Apex AE86 ikoniknya.
Namun faktanya, manga atau anime Jepang bertopik otomotif bukan hanya Initial D, karena ada Wangan Midnight kreasi komikus Michiharu Kusunoki yang sudah 30 tahun franchise-nya berdiri menggambarkan penikmat speed and performance melalui aksi kebut di Jalan Tol Jepang.
Baca Juga:
Ketika SUV Jagoan Off-road Mercedes-Benz G-Class Dimodifikasi Senyaman Limosin


Popularitas franchise Wangan Midnight di Indonesia memang tidak semenonjol Initial D tetapi termasuk bertahan namun melalui media berbeda, yaitu melalui video game arcade Wangan Midnight Maximum Tune yang biasa ada di game center seperti Timezone, Amazone, XXI, dan sebagainya.

Berawal dari komik, Wangan Midnight mengkisahkan seorang pelajar SMA, Akio Asakura, yang sangat antusias terhadap mobil. Saking antusiasnya, Akio sampai sering bolos sekolah karena harus bekerja mencari uang demi memenuhi kebutuhan antusiasme-nya tersebut.
Baca Juga:
Diikuti 80 Ribu Peserta, Kompetisi Brio Vitual Drift Challenge Usai Digelar

Antusiasme Akio terhadap mobil mulai membara semenjak melihat Porsche 911 Turbo atau "Blackbird" yang dikendarai seorang dokter, Tatsuya Shima, melintas di tol Wangan-sen daerah Tokyo dan berkeinginan untuk mengalahkannya.

Oleh karena itu Akio memutuskan untuk menjual Nissan Fairlady Z Z31, atau Z32 jika di film live action, kemudian menggantinya dengan model S30 yang dibeli di junkyard namun sudah engine swap mesin L28 twin-turbo cabutan Nissan Cedric/Gloria atau dikenal sebagai "Devil Z".
Baca Juga:
Banyak Promo, Jangan Lewatkan IMX Year End Modz Sales 12.12 di Bukalapak
Setelah membeli dari junkyard, Akio membangun "Devil Z` tersebut secara perlahan dengan bantuan kakak temannya, Ko-Chan, yang seorang montir. Seiring berjalannya waktu berkembang, "Devil Z" tersebut sampai mempertemukan tuner aslinya yaitu Jun Kitami, hingga beberapa pemain besar.
Antusiasme Akio terhadap modifikasi mobil menjadi sorotan para antusias di sekitarnya, bahkan sampai ke luar Tokyo yaitu Osaka dan memiliki keinginan untuk memodifikasi supaya bisa bersaing di jalan tol.
Wangan Midnight menggambarkan salah satu kehidupan para antusias modifikasi yaitu para pemain speed and performance yang kerap bolak-balik bengkel untuk memuaskan hasratnya sebagai penikmat dan targetnya adalah antara kompetitif hingga mencapai maksimum dan mengalahkan rivalnya di jalan tol.
Selain itu Wangan Midnight juga menggambarkan kultur otomotif Jepang yang notabene meskipun industri otomotif domestiknya sangat kuat, mereka juga antusias terhadap mobil non-Jepang dan mengakui kehebatannya.


Franchise Wangan Midnight bukan hanya komik, film animasi, dan video game, tetapi juga sampai kepada live-action movie dan miniatur mobil buatan perusahaan ternama yaitu AUTOart.
(Joule)