Bakal Dijual di Indonesia, Ini First Impression Mobil Listrik Nissan Leaf

  • Oleh : Julfikri

Rabu, 04/Agu/2021 13:59 WIB


SoundandMachine.com (Jakarta) – Baru-baru ini Nissan Motor Distributor Indonesia (NMDI) membuka open order untuk mobil listrik baterai Nissan Leaf dan harga tersebut dibanderol Rp. 641 Juta on the road.

Jauh sebelum Nissan open order, Leaf sudah lebih dulu di-sounding dalam perhelatan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD, Tangerang, dan Indonesia Electric Motor Show (IEMS) di Balai Kartini, Jakarta, pada tahun 2019 silam.

Baca Juga:
Unggulkan Teknologi Elektrifikasi, Nissan Bawa Dua Mobil Baru dan SUV New Terra di GIIAS 2022

Menariknya untuk IEMS 2019, Nissan membuka test drive bagi pengunjung yang ingin mencoba salah satu mobil listrik terlaris di dunia tersebut dengan rute keliling area Balai Kartini. Tentunya kami memanfaatkan betul salah satu momen spesial tersebut.

Baca Juga:
Lima Perusahaan Otomotif Jepang ini Mulai Operasikan Ekosistem Elektrifikasi di Indonesia

Begitu masuk ke kabin, interior Leaf terlihat rapi, dan kami sangat menyukai bentuk setir yang memberi impresi bahwa mobil tersebut akan menyenangkan untuk dikendarai dan juga memberi pengalaman baru.

Baca Juga:
Nissan Kicks e-Power Raih Award 3 Tahun Berturut-turut Berkat Fitur Inovatif Ini

Leaf juga merupakan mobil listrik baterai yang pertama kali kami kendaraI. Begitu dikendarai dalam kecepatan rendah saja langsung terasa bedanya dengan mobil bermesin konvensional, bahkan jauh berbeda dengan e-POWER pada Note yang juga disediakan oleh Nissan di IEMS.

Pasalnya, kalau di Note, suara mesin konvensional masih terdengar ketika mobil digas, meskipun rodanya tetap digerakkan oleh motor listrik. Sementara Leaf, suara seperti itu hampir tidak terdengar, jadi kerja motor listriknya begitu senyap.

Melewati tanjakan yang mengarah ke lobi samping Balai Kartini, kami juga merasakan fitur e-Pedal di Leaf yang bekerja melakukan pengereman ketika melepas gas.

Fitur e-Pedal bukan hanya mengurangi fatigue ketika stop and go di tanjakan atau turunan, tetapi juga memberi rasa berkendara yang analog dalam arti ada rasa “ndut-ndutan” seperti mobil bertransmisi manual, dan itu membuatnya terasa tidak sepenuhnya dikendalikan oleh motor listrik sehingga lebih secure.

Leaf terasa kaku ketika berbelok yang membuatnya fun to drive meski dikendarai dalam kecepatan rendah sekalipun, dan kami membayangkan Leaf akan lebih fun to drive jika dipacu dengan kecepatan tinggi.

Kami juga merasakan akselerasi Leaf yang terasa “narik” meskipun hanya sebentar. Pasalnya, mengetes akselerasi dilakukan di area lobi depan Balai Kartini bukan hanya lurusnya pendek, tetapi juga agak beresiko seperti lalu-lalang orang, terlebih kerja motor listrik Leaf begitu senyap.

Mengendarai mobil listrik, baik dalam kecepatan rendah maupun tinggi, rasanya harus lebih berhati-hati dibanding mobil bensin. Seperti mengendarai di area Balai Kartini karena bisa saja ada pejalan kaki “nyelonong” karena mungkin tidak menyadari kalau ada mobil ini lewat.

Terlepas dari segala persoalannya, Leaf tetap mobil listrik baterai yang menyenangkan dan memberi pengalaman baru untuk pengendaranya. Semoga saja unit yang masuk Indonesia tersebut rasanya akan tetap sama seperti di test drive IEMS 2019, atau akan lebih baik jika ada improvisasi.

(Joule)