Kenalin Nih, 6 Jenis Baterai yang Dipakai di Mobil Listrik

  • Oleh : redaksi

Jum'at, 15/Okt/2021 11:30 WIB


SoundandMachine.com (Jakarta) - Mobil listrik merupakan kendaraan yang beroperasi dengan mengandalkan tenaga listrik melalui dua komponen utama, yaitu baterai dan motor listrik.

Keduanya bersinergi menjadi penyimpan atau penyedia daya listrik, sementara lainnya sebagai sistem penggerak.

Baca Juga:
First Drive Mitsubishi Minicab MiEV yang Dicoba Presiden Jokowi: Tenaga Listrik Lebih Asyik

Hanya saja perlu diketahui bahwa baterai sebagai penampung listrik punya beberapa jenis berbeda, yang masing-masing memiliki karakteristik dalam pengoperasian dan juga efek performa.

Nissan termasuk yang berpengalaman dan pemimpin dalam teknologi mobil listril, termasuk penggunaan baterai dengan jenis berbeda selama memproduksinya dari masa ke masa.

Baca Juga:
Pemanasan Sebelum Dipasarkan, Wuling Boyong Kendaraan Listrik GSEV di IEMS 2021

Lithium-ion (Li-ion)

Baca Juga:
Bakal Diproduksi di Indonesia, Hyundai Bawa Mobil Listrik Ioniq 5 di IEMS 2021

(sumber: Nissan)

Baterai lithium-ion memiliki efisiensi energi tinggi dengan performa baik pada suhu tinggi, rasio terhadap berat sangat tinggi, dan rasio energi lebih besar per beratnya.

Pengisian dayanya juga bisa lebih cepat, bertahan lebih lama, serta kepadatan daya yang dihasilkannya bisa lebih lama dengan ukuran lebih ringan.

Baterai kalau semakin ringan akan membuatnya bisa dikendarai dengan jarak lebih jauh dalam sekali pengisian daya baterai.

Nilai plus lainnya tidak mengandung zat-zat berbahaya untuk manusia, dan tingkat self-discharge lebih rendah dibandingkan baterai jenis lain, sehingga lebih baik dalam mempertahankan kemampuannya menahan muatan penuh.

Tak kalah penting, sebagian besar baterai jenis ini dapat didaur ulang.

Itulah mengapa baterai jenis ini masih menjadi andalan Nissan, seperti Kicks e-Power dan Leaf.

Nickel-metal Hydride (NiMH)

(sumber: Nissan)

Baterai jenis nickel-metal hydride menggunakan hidrogen sebagai penyimpan energinya, dan nikel serta logam lain (seperti titanium) berfungsi menjaga tutup ion hidrogen.

Keunggulannya adalah baterai NiMH punya daya tahan atau usia pakai yang lebih panjang daripada Li-ion, serta mudah didaur ulang dengan sedikit kandungan beracun terhadap lingkungan.

Kekurangan yang dimiliki baterai nickel-metal hydride adalah harganya yang relatif lebih mahal, tingkat self-discharge tinggi, serta menghasilkan panas signifikan.

Karena itu NiMH kurang efektif digunakan mobil listrik yang bisa dan sering diisi ulang energi dari sumber eksternal (plug-in), sehingga lebih cocok dan umum dipakai pada mobil listrik hybrid.

Nissan termasuk yang pernah memakai baterai ini, namun mobil hybrid Dayz keluaran 2014, dan sekarang kei-car tersebut sudah memakai baterai Lithium-ion.

Lead-Acid

(sumber: Nissan)

Dibandingkan jenis baterai mobil listrik yang ada, lead-acid (SLA) adalah jenis baterai isi ulang (rechargeable) yang sudah eksis paling lama.

Memang baterai ini jauh lebih berat dan tidak punya kapasitas yang bersaing, namun harganya lebih terjangkau dan aman dibandingkan dua jenis baterai di atas.

Baterai lead-acid (SLA) berkapasitas besar saat ini sedang dikembangkan untuk mobil listrik agar lebih cocok kegunaannya. Sedangkan untuk saat ini, baterai lead-acid lebih umum diterapkan pada kendaraan komersial atau niaga sebagai sistem penyimmpanan energi sekunder.

Nissan pernah memakai baterai ini ke mobil listrik pertamanya, yaitu Tama pada tahun 1943, dan sekarang ada di mobil hybrid-nya, yaitu Nissan Serena untuk pasar Jepang.

Solid-State

(sumber: Nissan)

Jenis baterai ini menghilangkan elektrolit cair berat yang digunakan pada lithium-ion, dan digantikan oleh elektrolit padat dengan wujud gelas, keramik atau bahan padat lainnya.

Struktur keseluruhannya juga mirip dengan lithium-ion tradisional, tetapi jauh lebih padat dan kompak karena tanpa cairan, begitu juga dengan cara self-discharge dan pengisian ulang energinya.

Elektrolit padat membuat jejaknya lebih kecil daripada cairah tradisional, sehingga penggunaannya bisa menghemat kapasitas. Dibandingkan lithium-ion dengan kapasitas sama, solid-state dapat memiliki kapasitas antara dua dan sepuluh kali lipat lebih besar.

Baterai solid-state termasuk baru diterapkan di industri otomotif, dan kehadirannya di mobil listrik semakin diharapkan. Nissan menargetkan akan ada di mobil listriknya sebelum tahun 2030.

Nickel-Cadmium

Nickel-cadmium atau Ni-Cd memiliki banyak keunggulan dibandingkan jenis baterai lain, seperti kepadatan penyimpanan signifikan dan masa pakai sekitar 500 sampai 1.000 siklus pengisian daya.

Di sisi lain, nickel-cadmium juga punya kekurangan yang signifikan, seperti bobot sangat berat serta kerentanan terhadap efek memori, yaitu fenomena fisik berupa penurunan kinerja baterai saat mengalami siklus “pengosongan” sebagian.

Penggunaan nickel-cadmium kini dilarang karena toksisitas cadmium yang bisa dihasilkannya, dan Nissan lebih memilih untuk memakai Lead Acid sebelum beralih ke Lithium-ion sejak tahun 1995.

Ultracapacitor

Baterai ultracapacitor memiliki penyimpanan cairan terpolarisasi antara elektroda dan elektrolitnya. Seiring meningkatnya luas permukaan cairan, maka kapasitas penyimpanan energi pada ultracapacitor juga ikut meningkat.

Layaknya baterai SLA, ultracapacitor sangat cocok menjadi perangkat penyimpanan energi sekunder untuk kendaraan listrik.

Pasalnhya, ultracapacitor berperan membantu baterai elektrokimia meningkatkan tingkat bebannya, serta dapat memberikan tenaga ekstra pada kendaraan listrik untuk berakselerasi dan pengereman regeneratif.

Saat ini mobil listrik dengan baterai ultracapacitor baru ada di mobil performa tinggi saja, sementara Nissan lebih mengandalkan Lithium-ion.

(adv)