Oleh : Febri
Soundandmachine.com (Tokyo) - Langkah besar BYD di Jepang semakin nyata dengan hadirnya BYD Racco, electric vehicle (EV) berukuran mungil yang siap mengguncang segmen kei car (sebutan mobil kecil di Jepang), pasar yang selama ini dikuasai merek lokal.
Diperkenalkan di Tokyo dalam ajang Japan Mobility Show 2025, Racco menjadi kei car pertama di dunia yang dibuat oleh produsen non-Jepang, menandai ambisi besar BYD untuk menembus pasar paling khas di industri otomotif Jepang.
Desain K-Car Banget!
Baca Juga:
Dari Masyarakat hingga Pemerintahan, BYD Sealion 7 Mendapat Pengakuan Secara Global
Secara desain, BYD Racco mengikuti batasan ketat regulasi kei car Jepang, dengan bodi tinggi, sempit, dan kompak, berpadu dengan pintu geser di belakang untuk memaksimalkan kepraktisan di area parkir sempit perkotaan.
Mobil ini diperkirakan memiliki baterai 20 kWh dengan jarak tempuh 180 km, serta motor listrik yang dibatasi hingga 63 hp sesuai aturan lokal. Dari segi harga, Racco diposisikan untuk bersaing langsung dengan Nissan Sakura EV, mobil listrik terlaris di Jepang, yang dibanderol mulai dari 2,54 juta yen (sekitar 17.000 USD).

Baca Juga:
Beda dari Indonesia, Suzuki e Vitara Launching di Thailand Berpenggerak All-Wheel Drive
Dikutip dari InsideEVs, mereka mengatakan bahwa BYD menunjukkan ambisi besar untuk menaklukkan pasar mobil listrik Jepang, meskipun pasarnya masih kecil, dengan meluncurkan model khusus dan bersaing langsung dengan mobil terlaris di segmen tersebut.
BYD juga menjadi merek mobil Cina terlaris di Jepang, meski total penjualan baru mencapai 5.000 unit sejak masuk pasar pada 2023 (23/10/25).

Baca Juga:
Siap Jadi Luxury MPV Revolusioner, Denza D9 Generasi Baru Segera Hadir
Kehadiran BYD Racco bukan sekadar peluncuran model baru, tetapi simbol dari strategi ekspansi global BYD yang berani dan adaptif.
Dengan memahami selera dan regulasi lokal, BYD mencoba menembus benteng terakhir industri otomotif Jepang, segmen kei car, yang selama ini dianggap mustahil bagi produsen asing.
Jika sukses, Racco bisa menjadi awal dari perubahan besar dalam peta persaingan mobil listrik di Asia Timur. (fbr)