Mengenang Almarhum H. Sucipto, Ahli Bubut Roda Mobil Legendaris dari Bengkel Sarinande

  • Oleh : Julfikri

Kamis, 19/Agu/2021 12:22 WIB


SoundandMachine.com (Jakarta) – Dunia modifikasi Indonesia kembali berduka dengan wafatnya salah satu ahli bubut baut pelek legendaris yaitu H. Sucipto dari bengkel Gelora Sarinande.

Sucipto, atau akrab dipanggil pak Cipto oleh para antusiasnya, wafat di usia 63 tahun karena penyakit ginjal yang dialaminya. Wafatnya Cipto meninggalkan rasa duka bagi para antusias otomotif yang berlangganan ke bengkelnya, terutama di era 1990-an.

Baca Juga:
Opsi Personalisasi Perdana, BYD Atto 1 Upgrade Pelek Aftermarket di Permaisuri Ban

“Almarhum wafat di usia 63 tahun, ada penyakit ginjal sudah kurang lebih dua tahun rawat jalan dan cuci darah.” tulis admin akun Instagram Gelora Sarinande kepada SoundandMachine.com melalui Direct Message (18/8/2021).

Baca Juga:
Dunia Otomotif Berduka, Maestro Pelek Indonesia Wibowo Santosa Meninggal Dunia

(sumber: Gelora Sarinande)

Baca Juga:
Terpasang di Banyak Mobil Baru di GIIAS 2024, HSR Wheel Dipercaya Sejumlah Pabrikan Ternama

Para antusias otomotif tersebut menyerahkan mobilnya ke Cipto untuk membubut susunan baut peleknya atau pitch center disc (PCD) supaya pelek yang speknya tidak sesuai dengan mobil bawaannya bisa terpasang.

Seperti yang dialami oleh Gregorius Arie Yuwono, atau dikenal sebagai Arie Performance, pertama ke Sarinande pada tahun 1994 meminta ke pak Cipto untuk ubah PCD dari 4 x 108 ke 4 x 114,3 supaya pelek Carlsson Evo 17 inci-nya bisa terpasang di Peugeot 405 miliknya.

“Langsung disambut hangat oleh almarhum. Dengan gayanya yang akrab, langsung ditangani. Beliau sangat mengerti kantung mahasiswa saat itu.” kenang Arie.

Pak Cipto bukan hanya ahli mengubah PCD tetapi juga bertanggungjawab atas segala resiko yang terjadi terkait pekerjaannya. Seperti pengalaman Ardi Sugiarto, pelanggan sekaligus pegiat modifikasi, yang pernah ke Sarinande  untuk mengubah PCD Subaru Impreza WRX-nya.

“Saat ngebubut mobil Subaru WRX ke 5 x 114,3 dari 5 x 100, pas proses copot, kenalah jarum ABS gue dan patah. Langsung diganti baru.” kenang Ardi.

Menariknya, pak Cipto bukan hanya ahli dalam bubut PCD, tetapi juga figur yang komunikatif sehingga kerap menjadi teman mengobrol bagi para antusias otomotif di zamannya.

Dengan kepiawaiannya mengubah PCD di era 1990-an, secara tidak langsung menjadi cikal bakal berwarnanya kultur modifikasi Indonesia. Terlebih pada zaman itu modifikasi Indonesia masih relatif terbatas dari segi ketersediaan spek yang cocok dengan bawaan mobilnya.

“Kalo anak otomotif dari tahun tua sampe sekarang tahu beliau, gak ada beliau dengan bengkel bubut Sarinande mungkin permodifan otomotif Indonesia tidak akan berwarna sampe sekarang.” tambah Ardi.

Maka tidak heran jika para antusias otomotif begitu mengenang pak Cipto semasa hidupnya melalui pengalamannya ke bengkel Sarinande sebagai customer dan itu tertulis di kolom komentar postingan Instagram Sarinande terkait wafatnya pak Cipto.

Sehubungan dengan berita duka wafatnya pak Cipto, membuat bengkel Sarinande tutup pada tanggal 18 Agustus 2021 dan dibuka lagi setelahnya.

Selamat jalan, pak Cipto. Terima kasih telah membuat cikal bakal berwarnanya modifikasi Indonesia.

(Joule)